BAGIAN PERTAMA

Enam

Sepanjang jalanan blok M di lalui Agung sambil menatap jalan yang di padati kendaran bermotor, debu dan asap menemani para pengendara. Kini Agung menyusuri jalan dengan langkah yang gontai karena sudah enam hari semenjak hari pertemuan dengan sahabatnya tak menemui hasil, sore itu ia memasuki perumahan padat penduduk di dekat rumahnya tetapi sore itu ia memutuskan beristirahat di warung dekat lapangan yang sudah terlihat tua, maklum warung itu sudah berdiri semenjak limabelas tahun lalu.
"Bu, es kopi satu". ujar Agung pada ibu Inah penjaga warung itu, setelah memesan Agungpun pergi di teras warung sambil menatap anak-anak bermain bola.
Hitungan menit minuman yang di pesan Agung pun datang.
"Ini mas minumnya, gimana sudah bertemu dengan Aqila ?" Tanya bu inah seraya memberikan minumannya.
"Belum ada bu, bahkan adek kelas yang waktu itu juga tidak pernah bertemu lagi". Jawab Agung dengan nada lirih.
"Sabar aja mas, kalo jodoh itu tak kemana."jawab bu inah sambil duduk di samping Agung.
"Mungkin saat ini Aqila lupa tentang janjinya jadi coba aja terus mencarinya toh juga liburan masih seminggu lebih kan". Tambah bu inah seraya berjalan masuk ke warung.

Perkataan bu inah sedikit mengingatkan masa kecil Agung dan Aqila yang begitu dekat, dimana ada Agung pasti ada Aqila.
Hari yang begitu mengingatkan tentang Aqila adalah saat dimana Agung bermain dilapangan dengan Aqila ketika itu beberapa temannya seperti Ryu, Bayu, Alawi dan fandi ingin menjahili Agung karena tidak mau ikut bermain bola malah bermain karet dengan Aqila, maklum waktu kecil Agung sangat lemah dan memiliki postur tubuh kurus kecil, berbeda dengan Aqila yang lebih tinggi 8cm dari Agung, masa kecil Agung kurang tertarik di dunia olahraga karena takut kehilangan Aqila dan dia lebih memilih bermain apa saja asal bersama Aqila.

"Gung.. udah mau maghrib tidak takut nanti di cari Bapakmu lagi." Ujar bu inah sambil menepuk pundak Agung dan membuyarkan ingatan Agung.
"Eh... iya bu, saya pamit dulu kalo gitu". jawab Agung sambil membayar minumannya tadi, lalu dia menghilang di belokan gang sebelah warung.

Tujuh

Pagi itu begitu berat karena sebuah keajaiban tidak mungkin ada.
"Haruskah aku mencarinya atau tidak".gumam Agung yang masih diatas kasur. Serasa begitu berat ia melalui hari ini.
Saat ini Agung masih bermalas-malasan sambil menatap langit-langit kamar yang di hiasi bintang-bintang, penglihatannya begitu dalam dan mengingatkan pada kejadian tiga tahun lalu saat kepergian Aqila, karena pekerjaan orang tuanya.

Waktu itu mereka masih kelas dua smp, mereka terkenal pasangan serasi karena Agung memiliki tinggi badan yang ideal sedangkan Aqila tidak jauh berbeda dari tinggi badan Agung, wajah merekapun begitu mirip sehingga tidak sedikit berprasangka mereka itu jodoh, tetapi berbeda yang di rasaain teman-teman wanita Agung, mereka begitu cemburu saat Aqila berada di sampingnya, dan mereka menyatakan bahwa musuh terbesar untuk mendapatkan Agung adalah Aqila.
"Teeengg...Tengg....!!!"bunyi bel pulang sekolahpun terdengar kepenjuru kelas.

"La.. pulang bareng yuk ". Ajak Agung.
"Emang tidak ada ekskul gung?". Tanya Aqila.
"Lagi libur nih, aku pengen liat film sama kamu,' oh ya nontonnya dirumahmu ya".ajak Agung sembari memperlihatkan dvd action yang ia pinjam di rentalan.
Akhirnya merekapun pulang bersama karena ekskul Agung libur jadi dia memiliki waktu lama dengan sahabatnya, dijalan mereka tak henti-hentinya mengobrol tentang film yang akan dilihatnya.
setengah jam berjalan dari sekolah dan akhirnya sampai di depan rumah Aqila, tetapi hari itu sangatlah berbeda gerbang depan rumah Aqila yang biasa hanya terbuka sedikit kini terbuka lebar dan ada mobil ayahnya yang terparkir dihalaman serta mobil pick-up yang membawa barang-barang seisi rumah.
"La... ini ada apa ya? Kok perasaanku gak enak". Sambil berjalan masuk dan melihat ayah - ibu Aqila yang sedang menantikan kepulangannya.
"Sebenarnya aku mau pindah, maaf untuk itu aku memberitahunya mendadak."jawab Aqila sembari masuk kerumah dan membiarkan Agung di teras bersama ayah-ibunya.
"Pak.. Aqila tidak pindahkan?" tanya Agung karena masih tak percaya akan kepergian Aqila.
"Sebenarnya begini nak, sudah sejak satu tahun lalu bapak mendapat kepercayaan dari atasan sehingga disuruh mememang kantor cabang baru di kota Surabaya". Jawab ayah Aqila.
"Tapi gara-gara Aqila merengek minta waktu satu tahun untuk tinggal disini jadi bapak mengijinkan." lanjut ibu Aqila.
"Tapi.. tidak mungkin pak, bu, lalu siapa yang menemaniku nanti berangkat, pulang, dan belajar bareng?". Celoteh Agung.
"Pak beri waktu lagi biarkan Aqila disini seminggu lagi." Lanjut Agung seraya menangis dan memohon pada ayah-ibu Aqila.
"Maaf nak, ini juga bukan keinginan kami, kalo ada waktu pasti berkunjung kesini." Jawab ayahnya sembari mengusap air mata agung dengan tisu yang ada di meja.
"Ini hanya mimpikan? Aku percaya ini hanya lelucon pak." Jawab agung yang masih tak percaya dengan keadaan waktu itu, lalu Agung pun menangis semabari lari meninggalkankan rumah Aqila.

"Tokk..tookkk. gung sarapan sudah siap, makan dulu". Perintah ibu Agung. Ketukan pintu itu membuyarkan ingatan Agung. "
Iya buu..". Jawab Agung yang langsung bergegas mandi lalu sarapan.

Ingatan tentang Aqila menambah semangat Agung untuk bertemu dengannya, selepas sarapan Agung bergegas untuk ke Monas tempat pertemuan seminggu yang lalu.
Beberapa menit berjalan Agung sampai di halte blok M lalu datanglah bus transjakarta dia pun langsung masuk ke bus lalu dia memilih berdiri sambil melihat-lihat jalanan melalui kaca transparan bus.
"Itukan Adek kelas yang waktu itu" gumam Agung sambil terus menatap wajah imut adek kelasnya yang berjalan menuju halte.
"Mungkinkah dia akan ke Monas juga? Ya sudah aku tunggu aja di sana." Gumam Agung sambil tak sabar sampai ke Monas dan bertemu adek kelasnya itu.

Bersambung......
BAGIAN KETIGA
spoiler : Sembilan; nyanyian begitu merdu yang Agung dengar di pelataran halaman monas, sepertinya suara itu tidak asing.

# Lomba mini kontes cerpen.
untuk pendaftaran silahkan Di Sini
Hanyalah sebuah cerpen yang di lombakan.