Satu

Pagi itu jalanan sekitar blok M terasa begitu senggang lalu lintas yang biasa di padati oleh kendaraan pribadi kini terlihat hanya lalu lintas yang ramai lancar, maklum pagi itu adalah hari libur nasional menjelang liburan sekolah tak heran jika banyak yang berbondong-bondong ke Puncak untuk liburan daripada berkutat di kota masing-masing. Di sudut halte jalan Agung duduk sembari menunggu bus transjakarta untuk melakukan perjalanan ke Monas untuk menemui sahabat waktu kecilnya.
Mentari semakin condong ke ufuk kini cahayanya menembus di sela-sela kegelapan kota dan menampakan seisi kota yang terlihat modern dengan bangunan pencakar langit yang tinggi.
Dalam perjalanan Agung senyum-senyum sembari memandang surat serta foto kiriman dari sahabatnya. ia begitu tidak sadar ada seorang wanita yang memperhatikan sambil mengernyitkan gigi, pertanda kesal dengan tingkah Agung.

"Akhirnya sampai juga ."ucap Agung dalam hati.
Tepat di pelataran halaman Monas. Agung yang hanya bermodalan surat dan foto sahabatnya memperhatikan setiap wajah yang ia temui. Namun akan sulit mencari jika dijaman modern ini hanya mengandalkan surat, tak terasa waktu begitu cepat tak satupun wajah yang di temui Agung mirip dengan sahabatnya.

Mentari mulai menyembunyikan sinarnya, kegelapan malam mulai terlihat dan lampu penerangan serta lampu kemerlip di sudut kota mulai menyala sementara itu Agung memutuskan untuk mencari sahabatnya diesok harinya.

Dua

Hanya sebuah doa yang di lakukan untuk setitik harapan yang ada. Pagi itu masih seperti kemarin ia memandang surat dan tersenyum dalam bus, tapi hari ini Agung begitu kaget ketika ada yang menegurnya.

"Mas, kok senyum sendiri dari kemaren aku perhatiin senyum sendiri". Tanya seorang wanita yang duduk di sebelah Agung dan nampa lebih muda dari Agung .
"Eh.. iya maaf lagi tidak sabar ingin berjumpa sahabat lama". Jawab Agung seraya melihatkan foto yang ia pandang sejak kemaren.
"Cantik juga ya mas, oh ya mas mau turun di Monas lagi ya? Aku juga ingin kesana." Jawab wanita tersebut.
"Yaudah bareng aja nanti turunnya".ujar Agung.

Bus berhenti di halte dekat Monas lalu muda-mudi itu pun berjalan berdua sambil mengobrol masa lalu bahwa sebenarnya wanita yang sedang berjalan di sampingnya itu adalah adek kelas Agung waktu smp, ia begitu tertarik pada Agung karena Agung jago dalam segala hal olahraga tak heran banyak penggemarnya waktu itu.
Hari begitu lelah tak terasa senja tiba akhirnya adek kelas Agung pun ijin pulang duluan, entah apa yang ada di pikiran Agung ia sedikit melupakan terhadap pencarian sahabatnya karena begitu sulit menemukan hanya bermodalkan foto.

Tiga

Hari liburan memang begitu menyenangkan untuk keluar rumah apalagi cuaca sangat mendukung, hari ini Agung sebenarnya ingin berniat bertemu dengan adek kelasnya kemaren. Tapi rasa kecewa begitu dalam saat memasuki bus yang tak terlihat wajah adek kelasnya. Akhirnya iapun memutuskan berhenti di halte berikutnya lalu pulang dengan wajah kecewa.

Empat

Pagi hari di taman halaman Monas Agung memandang langit semabari mengekspresikan kekecewaannya yang tak bisa bertemu sahabat dan adek kelasnya yang begitu manis.
Awan bergerak mengikuti tiupan angin, seorang lelaki kini teringat tiga hari lalu tentang hari yang begitu menyenangkan bersama adek kelasnya dan ingatannya seolah menyadarkan sesuatu.

"Adek kelas? , sebenarnya dia tinggal dimana dan siapa namanya ?" Ujar agung dalam hati.
"Siapa dia sebenarnya ?". Ujar Agung sambil memikirkan nama-nama yang ia ingat.
Waktu begitu kejam hingga kini Agung belum tahu siapa nama adek kelas yang mengusik hatinya, yang Agung ingat hanyalah sebuah wajah manis dari adek kelasnya itu.

Lima

Lima hari semenjak hari pertemuan yang di tetapkan, selama Lima hari hal yang di lakuin Agung hanyalah ingin bertemu sahabatnya dan ingin tahu nama adek kelasnya yang memaksa masuk kehati Agung. Hari ini Agung berharap dapat bertemu salah satu diantara mereka.
Transjakarta pun melewati halte yang Agung duduki, dari kaca samping kiri terlihat sepintas wajah manis adek kelasnya. Dalam benaknya ia berfikir mungkinkah itu dia atau hanya halusinasi pikir Agung waktu itu.

Bersambung....
BAGIAN KEDUA
spoiler : Tujuh; Sepintas dari dalam bus Agung melihat adek kelasny berjalan di jalanan sekitar blok M.

# Lomba mini kontes cerpen.
untuk pendaftaran silahkan Di Sini
Hanyalah sebuah cerpen yang di lombakan.