Bagian Pertama 1498336994503.jpg

Judul : Penyesalan!!!
Penulis : Yoshihiko
Konten : Remaja(12+)
Genre : young adult

Malam sangat cerah, ku edarkan mata ke arah langit, kupandang ratusan bahkan jutaan bintang sampai yang terkecil bahkan mata ini tak sanggup untuk menatap bagian terkecil sinar bintang di langit.

Ku dengar dari arah jalan komplek di depan rumahku, takbir berkumandang aku yang berada di halaman depan rumah bergegas untuk melihat dari arah dekat, dengan kekuatan seadanya aku berlari menuju ke gerbang pintu rumah yang bercat hijau, kulihat sangat indah di barisan pertama dengan seorang bapak-bapak yang memakai spanduk bertuliskan dari kampung sebelah di ikuti arak-arakan desain ka'bah mini yang di angkut becak, di belakangnya anak-anak kecil yang memegang obor sambil menyerukan takbir.

"Bagus ya nak?". ucap ayahku yang kini berada di dekatku dan membuka sedikit gerbang.
"Sini nak, biar kelihatan". ajak ayahku.
Akupun berlari kecil keluar gerbang dan berdiri di depan gerbang diikuti dengan semua anggota keluarga yang lengkap.
"Yah, pernah kayak gitu?". tanya ku sambil menunjuk orang yang menyemburkan api dari mulutnya.
"Dulu waktu muda ayah juga kayak gitu kok".
"Sekarang masih bisa yah?, boleh lihat?".
"Ayahmu itu dulunya sedikit kuper dek, jadi jangan harap bisa melakukan itu". sahut ibuku yang sedang berdiri di belakangku sebelah kanan, sedangkan ayahku di sebelah kiri, tapi kakak-kakaku begitu antusias sehingga ia mendekati dan memotret moment malam ini.
"Bukan gitu juga kali". timpal ayahku.
"Jujur aja deh yah, ayahkan emang kuper dari kecil, Hehe". ejek ibuku pada ayah, yang membuatku tertawa diikuti oleh ayahku.

Takbir keliling mulai terlihat ujungnya, dalam hitungan menit sudah tak tampak lagi arak-arakan tersebut, hanya sebuah lantunan takbir yang samar-samar terdengar.

***

DUUAARRRR.....!!!!

DDDUUUAAARR....!!!

Suara kembang api yang begitu keras menyadarkan lamunanku, kini pandangan anak kecil yang kulihat tadi menghilang sehingga kualihkan pandanganku ke arah kembang api yang indah dan gemerlap pada malam ini.

Aku yang masih berdiri di depan jendela kamar dengan genggaman kuat pada bir yang masih ku genggam sejak pertama tadi aku berjalan menuju ke jendela.
PYYAAARRR..!!!
Dengan semangat kuhempaskan botol bir pada tembok kamarku sehingga isi yang masih setengah kini tumpah di lantai kamar, ingin rasanya ku ambil pecahan botol itu dan ku goreskan pada lengan.
Tanpa berfikir panjang aku pun mengambil satu pecahan botol yang berserakan di lantai kamarku.Tuhan... maafkan aku, aku ingin bertemu mereka disurgaMu gumamku begitu lirih di sertai air mata tak tertahankan ku gores kepingan kaca botol pada lenganku, kulihat darah mulai bercucuran dari lengan, Sakit begitu mendalam, oh Tuhan maafkan aku.

TIINGG..TOOONNG!!!
TIINGG..TOONNGG!!!
Apakah malaikat penjemput nyawa sudah kerumahku? pikiranku mulai terbang melayang-layang, rasa goresan kaca sangat tak terasa bagiku, darah begiu banyak mengalir, ingin kuhampiri malaikat pencabut nyawa yang sudah di teras tapi badanku mulai lemas, begitu sulit untuk berdiri dan menuju lantai bawah untuk membuka pintu depan.

TTIINNGG... TOONNGG!!
Silahkan masuk malaikat, pintunya tidak ku kunci, cepat ambil saja nyawa ini. gumamku sambil menggernyitkan gigi dan menutup mata, karena sakit yang begitu perih kurasakan di lenganku.

"Rennooo...!!!".
"Apa yang kamu lakukan!!!".
Aku hanya mendengar kata terakhir tersebut dan badan begitu lemas sehingga tak sadarkan diri.

*Seminggu kemudian*

Ku pandang dengan detail setiap isi kamar dimana ada infus di lengan kiri, sedangkan di lengan lain terdapat selang transfusi darah, nafasku begitu sesak karena benda oksigen yang terpasang di hidung, rasanya tidak nyaman, karena ini baru pertama kalinya aku masuk kerumah sakit. Pandangan ini berhenti pada wanita yang duduk di kursi kamar ini.

"Syukurlah akhirnya kamu sadar juga setelah seminggu koma".
"Liii...saaa..?". kutatap tajam wajah wanita itu, ternyata ia adalah lisa teman SMA ku dulu sekaligus mantan pacarku waktu itu.
"Iyaa... syukurlah kalo begitu, oh ya gimana perasaanmu sekarang?". tanya Lisa padaku dengan wajah yang antusias namun begitu manis saat di ikuti sebuah senyumannya.
"Rani dimana?".
"Kok tanya dia!!! jelas-jelas aku yang merawatmu selama satu minggu ini". entah kenapa saat ini senyuman yang begitu manis kini hilang dari raut wajahnya, hanya tatapan sinis pada mataku.
"Maaf..".
"Jangan sekali manggil nama itu di hadapanku lagi!!!". gerutunya.
"Oh ya pasti kamu laper, mau makan apa?, nanti aku pesenin online". lanjutnya.
"Tidak terima kasih, aku tidak ingin makan Lis".
"Tapi Ren...".
Kulihat airmatanya mulai mengalir dari kelopak matanya, raut wajahnya kini berubah sedih, entah ini hanya akting yang di lakukannya seperti waktu itu atau bukan aku tidak bisa membacanya.

Bersambung...

Semoga kalian suka :) tolong kritikannya.

T E R I M A K A S I H